Handwriting - Smiley Star

Jumat, 24 November 2017

PENGERTIAN KONDUKSI KONVEKSI dan RADIASI

PENGERTIAN
KONDUKSI KONVEKSI dan RADIASI


Pengertian dan Contoh Konduksi, Konveksi, Radiasi - Perpindahan kalor, secara alamiah kalor berpindah dari benda yang memiliki suhu lebih tinggi ke benda yang memiliki suhu yang lebih rendah. Perpindahan kalor ada tiga macam cara, yaitu konduksi, konveksi dan juga radiasi. Dan berikut ini merupakan penjelasan tentang ketiga cara perpindahan kalor :


1. Pengertian dan contoh konduksi


Ilustrasi pertama : Oke sekarang coba amati ceret (panci) ketika anda memasak air. Jika air di dalam ceret sudah mendidih pasti anda tidak mau memegang tutup ceretnya? Kecuali anda adalah seorang yang kebal terhadap panas. Karena ceret tersebut akan terasa sangat panas bila disentuh dengan tangan secara langsung, kemudian pertanyaannya. Mengapa tutup ceretnya ikut panas padahal tidak langsung bersentuhan dengan api>

Ilustrasi kedua : Jika ujung suatu logam dipanaskan di atas nyala api, maka ujung yang lain pada logam tersebut lama kelamaan juga akan ikut panas.

Dari kedua ilustrasi diatas, dapat kita simpulkan bahwa ternyata pada logam tersebut terjadi perpindahan kalor dari bagian yang lebih panas ke bagian yang lebih dingin. Tetapi partikel-partikel dari logam tersebut tidak ikut berpindah karena sifat dari molekul zat padat yang tidak bisa berpindah-pindah.

Perpindahan kalor melalui suatu zat tanpa disertai perpindahan partikel-partikel zat tersebut adalah pengertian konduksi. Jadi, dalam konduksi kalor hanya merambat saja, sedangkan zat padat sebagai penghantarnya.

Pada contoh perpindahan kalor secara konduksi di depan, digunakan logam alumunium. Bagaimana jika logam alumunium tersebut kita ganti dengan yang lain? Apakah semua logam yang ada di dunia ini mampu untuk menghantarkan panas? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat erat hubungannya dengan daya hantar kalor suatu zat.


Pengertian dan contoh konduksi

Daya hantar kalor suatu zat adalah kemampuan zat untuk menghantarkan panas (kalor). Artinya suatu zat yang daya hantar kalornya tinggi lebih cepat menghantarkan kalor lebih cepat dan panas. Berdasarkan daya hantar kalornya, terdapat tiga macam zat sebagai berikut ini :


  1. Konduktor, adalah suatu zat yang dapat menghantarkan kalor dengan baik. Hampir semua jenis logam adalah konduktor.
  2. Isolator, adalah zat yang penghantar kalor (panasnya) buruk. Isolator merupakan zat yang dapat meredam/menyekat kalor. Contohnya : plastik, karet, kayu, gabus, air dan udara.
  3. Semikonduktor, adalah zat yang bersifat setengan konduktor dan setengan isolator, contohnya adalah gelas dan ebonit.


2. Pengertian dan contoh konveksi

Berdasarkan penjelasan tentang daya hantar kalor diatas, dapat diketahui bahwa air dan udara termasuk isolator sehingga tidak dalam menghantarkan panas buruk. Mengapa air yang dimasak dapat mendidih dan udara di atas api menjadi panas? Hal ini karena kalor dapat berpindah dengan cara konveksi atau aliran.

Pengertian dari konveksi atau aliran adalah perpindahan panas yang disertai dengan perpindahan partikel-partikel zat tersebut yang disebabkan oleh perbedaan  massa jenis.


Berikut ini merupakan penjelasan tentang konveksi pada zat cair dan konveksi pada gas (udara).

a. Konveksi pada zat cair
Terjadinya konveksi pada zat cair dapat kita lihat saat memasak air. Pada saat air di panaskan maka akan memuai, pemuaian ini dimulai dari air yang berada di bagian bawah yang lebih dekat dengan nyala api. Ketika air di bagian bawah ini memuai, massa jenisnya akan berkurang sehingga akan membuat air di bagian bawah tersebut ber gerak naik (ke atas).




Pengertian dan contoh konveksi

Tempatnya digantikan oleh air yang suhunya lebih rendah, yang bergerak turun karena massa jenisnya lebih besar. Untuk membuktikan kejadian seperti ini, dapat digunakan zat warna agar gerakan air nampak jelas.

b. Konveksi pada gas (udara)

Peristiwa konveksi pada gas sama dengan konveksi pada zat cair. Konveksi pada gas, misalnya udara terjadi ketika udara panas naik dan udara yang lebih dingin bergerak turun.

Gejala alam yang merupakan contoh dari perpindahan kalor secara konveksi adalah terjadinya angin darat dan angin laut. Pada siang hari, daratan suhunya lebih cepat panas. Akibatnya udara di atas daratan akan bergerak naik dan udara yang lebih dingin yang berada di atas laut bergerak ke daratan karena tekanan udara di atas permukaan laut lebih besar daripada tekanan di atas daratan.

Hal ini menyebabkan terjadinya angin laut yang bertiup dari permukaan laut ke daratan. Sebaliknya, pada malam hari daratan lebih cepat dingin daripada laut. Akibatnya udara panas di atas laut bergerak naik dan tempatnya digantikan oleh udara yang lebih dingin dari daratan, sehingga terjadi angin darat yang bertiup dari daratan ke lautan.

3. Pengertian dan contoh radiasi

Dalam keseharian pada siang hari yang cerah kita dapat merasakan hangatnya sinar matahari. Mengapa kita bisa merasakan panasnya matahari, padahal letak daripada matahari sendiri sangat jauh dari bumi, dan juga terdapat ruang hampa antara bumi dan matahari.Hal ini karena kalor dapat berpindah tanpa melalui zat perantara ataupun penghantar.

Jadi pengertian dari radiasi (pancaran) adalah perpindahan kalor tanpa melalui zat perantaar.

Jumlah radiasi kalor yang diserap ataupun dipancarkan oleh suatu benda bergantung pada wanra benda. Benda-benda berwarna gelap merupakan penyerap sekaligus pemancar kalor yang baik, sementara itu benda-benda yang berwarna terang merupakan penyerap dan pemancar kalor yang buruk.

Pengertian dan contoh radiasi

Itulah sebabnya tubuh kita akan terasa lebih cepat gerah jika memakai baju berwarna hitam di siang hari. Dasa serap warna terhadap kalor dapat diselidiki dengan termoskop. Contoh lain dari gejala radiasi kalor adalah ketika kita berada di dekat api. Panas api ini akan memancar tubuh tanpa zat perantara (kita akan merasa hangat).

Pemanfaat konsep perpindahan kalor dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep perpindahan kalor yang telah kita pelajari di atas dalam kehidupan sehari-hari dimanfaatkan pada alat-alat setrikda dan tremos. Prinsip kerja dari setrika adalah mengubah energi listrik menjadi energi panas. Panas yang dihasilkan di konduksikan pada lempeng besi pada bagian alas setrika karena besi merupakan konduktor yang baik. Agar tidak terjadi perpindahan kalor pada bagian pengangan setrika, bagian tersebut dibuat dari bahan isolator, misalnya plastik.

Pemanfaatan konsep perpindahan kalor pada termos kurang lebih sebagai berikut. Termos merupakan alat yang dapat merangkap kalor, atau alat yang mampu menjaga panas. Pada termos terdapat dinding kaca yang bagian dalam dan bagian luarnya dibuat mengkilap.

Dinding kaca bagian dalam dibuat mengkilap ini bertujuan agar kalor dari air yang bersuhu panas tidak diserap dinding. Sementara, bagian luar dinding kaca dibuat mengkilap berlapis perak agar tidak terjadi perpindahan kalor secara radiasi.

Antara dinding kaca bagian dalam dan bagian luar terdapat ruang hampa yang berfungsi untuk mencegah perpindahan kalor secara konveksi. Bagian dari tutup termos terbuat dari bahan isolator agar tidak terjadi perpindahan kalor secara konduksi, sehingga air dalam termos tetap  panas. Pengertian dan Contoh Konduksi, Konveksi, Radiasi (Kita Punya).

Minggu, 12 November 2017

Stroke non hemoragi




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Stroke adalah salah satu gangguan fungsional yang terjadi secara mendadak dengan tanda dan gejala klinik baik lokal maupun global yang berlangsung dengan cepat, berlangsung lebih dari 24 jam, atau berakhir dengan kematian, disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak (WHO, 1995).
Stroke adalah ganguan fungsi otak yang mengakibatkan aliran darah ke otak berkurang sehingga otak kekurangan suplai darah yang terjadi secara cepat dan mendadak tanpa kesadaran. Apabila otak secara terus menerus kekurangan suplai darah maka akan terjadi kematian pada individu. Gejala awal stroke umumnya kelumpuhan, kelemahan, hilangnya sensasi di wajah, lengan atau tungkai disalah satu sisi tubuh, kesulitan berbicara atau memahami, kesulitan menelan dan hilangnya sebagian penglihatan di satu sisi (Feigin, 2006).
Jumlah penderitan stroke di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Sebab penyakit ini sudah menjadi pembunuh nomor 3 di Indonesia setelah penyakit infeksi dan jantung koroner. Sekitar 28,5% penderita penyakit stroke di Indonesia meninggal dunia. Sedangkan di Eropa, stroke merupakan penyakit berbahaya kedua setelah penyakit jantung koroner. Di antara 100 pasien rumah sakit, sedikitnya 2 orang merupakan penderita stroke (Lumbantobing, 2002).
Stroke juga menjadi masalah kesehatan primer di AS dan dunia. Meskipun upaya pencegahan telah diupayakan namun angka kematian stroke masih tinggi, stroke masih menduduki peringkat ketiga penyebab kematian, dengan laju mortalitas 18% sampai 31% untuk serangan stroke pertama dan 62% untuk stroke selanjutnya (Rosjidi, 2007).
Secara global, sekitar 80 juta orang menderita stroke, dimana 13 juta korban stroke baru setiap tahunnya dan sekitar 4,4 juta diantaranya meninggal dalam 12 bulan. Terdapat sekitar 250 juta anggota keluarga yang berkaitan dengan para pengidapstroke dapat bertahan hidup. Selama perjalanan hidup mereka, sekitar empat dari lima keluarga akan memiliki salah seorang anggota mereka yang terkena (Feigin, 2006).
Menurut ketua umum yayasan stroke Indonesia, Laksamana TNI (Pur) Sudomo, penyakit stroke bisa menyerang siapa saja tanpa memandang jabatan atau tingkatan sosial-ekonomi baik di rumah sakit maupun yang berada dalam masyarakat. Dengan kecenderungan menyerang generasi muda yang masih produktif, dimana akan berdampak menurunnya tingkat produktifitas dan terganggunya sosial-ekonomi keluarga (Aurin, 2007). Namun stroke dapat diperkirakan dan dapat dicegah pada hampir 85% orang. Pada kenyataannya sekitar 1/3 pasien stroke sekarang dapat pulih sempurna jika pasien selalu mendapat terapi darurat dan rehabilitasi yang memadai (Feigin, 2007).
Proses perbaikan atau penyembuhan yang sempurna atau mendekati sempurna terjadi pada fase pemulihan (recovery). Namun fase pemulihan ini tergantung dari topis lesi, derajat berat, kondisi tubuh pasien, ketaatan pasien dalam menjalani proses pemulihan, ketekunan dan semangat penderita untuk sembuh. Karena tanpa itu semua, dapat mengakibatkan hambatan dalam melakukan rehabilitasi.
Modalitas yang digunakan fisioterapi dalam pemulihan atau penyembuhan salah satunya adalah terapi latihan, melalui latihan-latihan gerakan tubuh yang berulang-ulang maka akhirnya terjadi gerakan yang dikuasai dengan baik dan lebih mudah dikerjakan (Suyono, 1992). Karena pada fase ini otak mengalami plastisitas yaitu kemampuan untuk beradaptasi dan memodifikas organisasi struktural dan fungsional terhadap kebutuhan, yang biasa berlangsung terus sesuai dengan kebutuhan (Setiawan, 2007). Peran fisioterapi melalui terapi latihan adalah mencegah terjadinya komplikasi, menormalkan tonus otot (spastisitas) secara postural, memperbaiki keseimbangan dan koordinasi, menanamkan pola gerak yang benar dan meningkatkan kemampuan fungsional.
Dari berbagai alasan tersebut diatas maka dalam penulisan proposal Karya Tulis Ilmiah (KTI) akan merencanakan studi kasus dengan judul penatalaksanaan terapi latihan pada pasien pasca stroke non haemorragik stadium recovery.

B. Rumusan Masalah
Dari pernyataan di atas penulis akan mengangkat suatu pendekatan dari fisioterapi dalam menangani permasalahan yang berkaitan dengan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional dari penderita post stroke non haemoragik stadium recovery adalah :
1.      Apakah terapi latihan dengan mekanisme reflek postur dapat menurunkan spastisitas otot secara postural ?
2.      Apakah terapi latihan dapat memperbaiki keseimbangan dan koordinasi ?
3.      Apakah terapi latihan dapat meningkatkan kemampuan motorik fungsional ?

C. Tujuan Penelitian
1.   Tujuan Umum
Untuk mengetahui peningkatan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional serta mencegah permasalahan yang mungkin muncul dalam melaksanakan proses fisioterapi pada kondisi pasien post stroke non haemoragik stadium recovery.

2.      Tujuan Khusus
a.      Untuk mengetahui terapi latihan mekanisme reflek postur dapat menurunkan spastisitas otot secara postural
b.      Untuk mengetahui terapi latihan dapat memperbaiki keseimbangan dan koordinasi
c.       Untuk mengetahui terapi latihan dapat meningkatkan kemampuan motorik fungsional.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat di ambil dari penulisan Karya Tulis Ilmiah adalah :
1.   Ilmu pengetahuan dan teknologi
a.       Memberikan gambaran bahwa terapi latihan dengan mekanisme reflek postur dapat menurunkan spastisitas otot secara postural, memperbaiki keseimbangan, koordinasi, kemampuan motorik dan fungsional.

2.      Bagi Penulis
Menambahkan dan memperluas wawasan, pengetahuan penulis tentang terapi latihan pada pasien pasca stroke non haemorragik stadium recovery.

3.      Bagi Pembaca
Mendapat gambaran tentang terapi latihan pada pasien pasca stroke non haemorragik stadium recovery yang memberikan informasi penting sehingga pembaca dapat mengetahui faktor resiko sebagai pencetus dan berusaha menjadi anggota keluarga untuk menghindari faktor resiko tersebut.

4.      Bagi pendidikan
Dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan untuk lebih mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalaman,menyebarluaskan mengenai kasus stroke ini.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      Stroke
1.    Definisi Stroke Non Haemorragik
Pada Stroke Non Haemoragik (SNH) adalah stroke yang disebabkan peredaran darah ke sebagian jaringan otak terhenti karena sumbatan thrombus dan embolus yang terlepas dari jantung atau arteri ekstrakranial (arteri yang berada di luar tengkorak) yang menyebabkan sumbatan di satu atau beberapa arteri intracranial (arteri yang berada di dalam tengkorak). Stadium recovery adalah stadium pada penderita stroke dimana terjadi reabsorbsi oedema pada otak, sehingga terjadi penurunan proses desak ruang akut yang ada didalam otak, aktifitas reflek spinal sudah dapat berfungsi tetapi belum mendapat kontrol dari sistem supraspinal, berlangsung sekitar 6-8 bulan setelah terjadinya serangan stroke. Apabila fase ini diberikan penanganan yang baik maka perbaikan kearah impairment masih dapat ditingkatkan. (Kuntono, 2002)

2.    Etiologi
Pada Stroke Non Haemoragik (SNH), dapat dibedakan menjadi stroke embolik dan thrombolik. Pada stroke thrombolitik didapati oklusi di lumen arteri serebal oleh thrombus. Pada stroke embolik penyumbatan disebabkan oleh suatu embolus yang dapat bersumber pada arteri serebral, karotis interna vertebrobasiler, arkus aorta asendens ataupun katup serta endokranium jantung. Ateroklerotik dan berulserasi, atau gumpalan thrombus yang terjadi karena fibrilasi atrium, gumpalan kuman karena endokarditis bacterial atau gumpalan darah di jaringan karena infrak mural. (Feigin, 2006)



3.    Patologi
Otak merupakan 2% dari berat badan tubuh total (sekitar 1,4 kg) namun otak hanya menggunakan 20% dari oksigen tubuh dan 50% glukosa yang ada didalam darah arterial (Feigin, 2006). Otak sangat tergantung suplai darah dari luar, sehingga anatomi pembuluh darah otak mempunyai struktur yang mendukung tetap tersedianya darah pada otak.
Otak mendapatkan suplai darah dari dua arteri utama yaitu arteri karotis (kanan-kiri), menyalurkan darah ke otak bagian depan atau disebut sirkulasi arteri serebrum anterior dan sistem vertebrobasilaris menyalurkan darah ke bagian belakang otak atau di sebut sirkulasi arteri serebrum posterior (Feigin, 2006). Keempat cabang arteri ini akan membentuk suatu hubungan yang disebut sirkulus willisi.
Apabila terjadi gangguan peredaran darah ke otak akan menimbulkan gangguan metabolisme sel-sel neuron. Dimana sel-sel neuron itu tidak mampu untuk menyimpan glikogen. Oleh karena itu, di susunan saraf pusat untuk keperluan metabolisme sepenuhnya tergantung dari glukosa dan oksigen yang terdapat di arteri-arteri yang menuju otak. Maka hidup matinya sel-sel neuron dalam susunan saraf pusat sepenuhnya tergantung dari peredaran darah arteri.

4.    Tanda dan Gejala Klinis
Tanda dan gejala pada stroke sangat bervariasi tergantung tergantung dengan topis dan luas yang lesi. Menurut Junaidi (2006) gangguan atau kelainan yang merupakan pertanda seseorang terkena stroke meliputi (1) adanya serangan defisit neurologi fokal, berupa kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai, atau salah satu sisi tubuh, (2) hilangnya rasa atau sensasi abnormal pada lengan, tungkai, atau salah satu sisi tubuh. Baal atau mati rasa sebelah, terasa kesemutan, terasa seperti terkena cabai, rasa terbakar, (3) mulut, lidah mencong bila diluruskan, (4) gangguan menelan: sulit menelan, minum suka tersedak, (5) bicara tidak jelas (blero), sulit berbahasa, kata yang diucapkan tidak sesuai keinginan, pelo, sengau, bicaranya ngaco, kata-katanya tidak bisa dipahami (afasia). Bicara tidak lancar, hanya sepatah-sepatah kata yang terucap.



Rabu, 01 November 2017

STROKE NON HEMORAGIK STADIUM RECOVERY

PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA PASIEN PASCA STROKE NON HEMORAGIK

STADIUM RECOVERY


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Stroke adalah salah satu gangguan fungsional yang terjadi secara mendadak dengan tanda dan gejala klinik baik lokal maupun global yang berlangsung dengan cepat, berlangsung lebih dari 24 jam, atau berakhir dengan kematian, disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak (WHO, 1995).
Stroke adalah ganguan fungsi otak yang mengakibatkan aliran darah ke otak berkurang sehingga otak kekurangan suplai darah yang terjadi secara cepat dan mendadak tanpa kesadaran. Apabila otak secara terus menerus kekurangan suplai darah maka akan terjadi kematian pada individu. Gejala awal stroke umumnya kelumpuhan, kelemahan, hilangnya sensasi di wajah, lengan atau tungkai disalah satu sisi tubuh, kesulitan berbicara atau memahami, kesulitan menelan dan hilangnya sebagian penglihatan di satu sisi (Feigin, 2006).
Jumlah penderitan stroke di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Sebab penyakit ini sudah menjadi pembunuh nomor 3 di Indonesia setelah penyakit infeksi dan jantung koroner. Sekitar 28,5% penderita penyakit stroke di Indonesia meninggal dunia. Sedangkan di Eropa, stroke merupakan penyakit berbahaya kedua setelah penyakit jantung koroner. Di antara 100 pasien rumah sakit, sedikitnya 2 orang merupakan penderita stroke (Lumbantobing, 2002).
Stroke juga menjadi masalah kesehatan primer di AS dan dunia. Meskipun upaya pencegahan telah diupayakan namun angka kematian stroke masih tinggi, stroke masih menduduki peringkat ketiga penyebab kematian, dengan laju mortalitas 18% sampai 31% untuk serangan stroke pertama dan 62% untuk stroke selanjutnya (Rosjidi, 2007).
Secara global, sekitar 80 juta orang menderita stroke, dimana 13 juta korban stroke baru setiap tahunnya dan sekitar 4,4 juta diantaranya meninggal dalam 12 bulan. Terdapat sekitar 250 juta anggota keluarga yang berkaitan dengan para pengidapstroke dapat bertahan hidup. Selama perjalanan hidup mereka, sekitar empat dari lima keluarga akan memiliki salah seorang anggota mereka yang terkena (Feigin, 2006).
Menurut ketua umum yayasan stroke Indonesia, Laksamana TNI (Pur) Sudomo, penyakit stroke bisa menyerang siapa saja tanpa memandang jabatan atau tingkatan sosial-ekonomi baik di rumah sakit maupun yang berada dalam masyarakat. Dengan kecenderungan menyerang generasi muda yang masih produktif, dimana akan berdampak menurunnya tingkat produktifitas dan terganggunya sosial-ekonomi keluarga (Aurin, 2007). Namun stroke dapat diperkirakan dan dapat dicegah pada hampir 85% orang. Pada kenyataannya sekitar 1/3 pasien stroke sekarang dapat pulih sempurna jika pasien selalu mendapat terapi darurat dan rehabilitasi yang memadai (Feigin, 2007).
Proses perbaikan atau penyembuhan yang sempurna atau mendekati sempurna terjadi pada fase pemulihan (recovery). Namun fase pemulihan ini tergantung dari topis lesi, derajat berat, kondisi tubuh pasien, ketaatan pasien dalam menjalani proses pemulihan, ketekunan dan semangat penderita untuk sembuh. Karena tanpa itu semua, dapat mengakibatkan hambatan dalam melakukan rehabilitasi.
Modalitas yang digunakan fisioterapi dalam pemulihan atau penyembuhan salah satunya adalah terapi latihan, melalui latihan-latihan gerakan tubuh yang berulang-ulang maka akhirnya terjadi gerakan yang dikuasai dengan baik dan lebih mudah dikerjakan (Suyono, 1992). Karena pada fase ini otak mengalami plastisitas yaitu kemampuan untuk beradaptasi dan memodifikas organisasi struktural dan fungsional terhadap kebutuhan, yang biasa berlangsung terus sesuai dengan kebutuhan (Setiawan, 2007). Peran fisioterapi melalui terapi latihan adalah mencegah terjadinya komplikasi, menormalkan tonus otot (spastisitas) secara postural, memperbaiki keseimbangan dan koordinasi, menanamkan pola gerak yang benar dan meningkatkan kemampuan fungsional.
Dari berbagai alasan tersebut diatas maka dalam penulisan proposal Karya Tulis Ilmiah (KTI) akan merencanakan studi kasus dengan judul penatalaksanaan terapi latihan pada pasien pasca stroke non haemorragik stadium recovery.

B. Rumusan Masalah
Dari pernyataan di atas penulis akan mengangkat suatu pendekatan dari fisioterapi dalam menangani permasalahan yang berkaitan dengan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional dari penderita post stroke non haemoragik stadium recovery adalah :
1.      Apakah terapi latihan dengan mekanisme reflek postur dapat menurunkan spastisitas otot secara postural ?
2.      Apakah terapi latihan dapat memperbaiki keseimbangan dan koordinasi ?
3.      Apakah terapi latihan dapat meningkatkan kemampuan motorik fungsional ?

C. Tujuan Penelitian
1.   Tujuan Umum
Untuk mengetahui peningkatan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional serta mencegah permasalahan yang mungkin muncul dalam melaksanakan proses fisioterapi pada kondisi pasien post stroke non haemoragik stadium recovery.

2.               2..  Tujuan Khusus
a.      Untuk mengetahui terapi latihan mekanisme reflek postur dapat menurunkan spastisitas otot secara postural
b.      Untuk mengetahui terapi latihan dapat memperbaiki keseimbangan dan koordinasi
c.       Untuk mengetahui terapi latihan dapat meningkatkan kemampuan motorik fungsional.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat di ambil dari penulisan Karya Tulis Ilmiah adalah :
1.   Ilmu pengetahuan dan teknologi
a.       Memberikan gambaran bahwa terapi latihan dengan mekanisme reflek postur dapat menurunkan spastisitas otot secara postural, memperbaiki keseimbangan, koordinasi, kemampuan motorik dan fungsional.

2.      2. Bagi Penulis
   Menambahkan dan memperluas wawasan, pengetahuan penulis tentang terapi latihan pada pasien        pasca stroke non haemorragik stadium recovery.

3.      3. Bagi Pembaca
   Mendapat gambaran tentang terapi latihan pada pasien pasca stroke non haemorragik stadium              recovery yang memberikan informasi penting sehingga pembaca dapat mengetahui faktor resiko          sebagai pencetus dan berusaha menjadi anggota keluarga untuk menghindari faktor resiko tersebut.

4.      4. Bagi pendidikan
   Dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan untuk lebih mengembangkan ilmu pengetahuan dan               pengalaman,menyebarluaskan mengenai kasus stroke ini.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      Stroke
1.    Definisi Stroke Non Haemorragik
Pada Stroke Non Haemoragik (SNH) adalah stroke yang disebabkan peredaran darah ke sebagian jaringan otak terhenti karena sumbatan thrombus dan embolus yang terlepas dari jantung atau arteri ekstrakranial (arteri yang berada di luar tengkorak) yang menyebabkan sumbatan di satu atau beberapa arteri intracranial (arteri yang berada di dalam tengkorak). Stadium recovery adalah stadium pada penderita stroke dimana terjadi reabsorbsi oedema pada otak, sehingga terjadi penurunan proses desak ruang akut yang ada didalam otak, aktifitas reflek spinal sudah dapat berfungsi tetapi belum mendapat kontrol dari sistem supraspinal, berlangsung sekitar 6-8 bulan setelah terjadinya serangan stroke. Apabila fase ini diberikan penanganan yang baik maka perbaikan kearah impairment masih dapat ditingkatkan. (Kuntono, 2002)

2.    Etiologi
Pada Stroke Non Haemoragik (SNH), dapat dibedakan menjadi stroke embolik dan thrombolik. Pada stroke thrombolitik didapati oklusi di lumen arteri serebal oleh thrombus. Pada stroke embolik penyumbatan disebabkan oleh suatu embolus yang dapat bersumber pada arteri serebral, karotis interna vertebrobasiler, arkus aorta asendens ataupun katup serta endokranium jantung. Ateroklerotik dan berulserasi, atau gumpalan thrombus yang terjadi karena fibrilasi atrium, gumpalan kuman karena endokarditis bacterial atau gumpalan darah di jaringan karena infrak mural. (Feigin, 2006)

3.    Patologi
Otak merupakan 2% dari berat badan tubuh total (sekitar 1,4 kg) namun otak hanya menggunakan 20% dari oksigen tubuh dan 50% glukosa yang ada didalam darah arterial (Feigin, 2006). Otak sangat tergantung suplai darah dari luar, sehingga anatomi pembuluh darah otak mempunyai struktur yang mendukung tetap tersedianya darah pada otak.
Otak mendapatkan suplai darah dari dua arteri utama yaitu arteri karotis (kanan-kiri), menyalurkan darah ke otak bagian depan atau disebut sirkulasi arteri serebrum anterior dan sistem vertebrobasilaris menyalurkan darah ke bagian belakang otak atau di sebut sirkulasi arteri serebrum posterior (Feigin, 2006). Keempat cabang arteri ini akan membentuk suatu hubungan yang disebut sirkulus willisi.
Apabila terjadi gangguan peredaran darah ke otak akan menimbulkan gangguan metabolisme sel-sel neuron. Dimana sel-sel neuron itu tidak mampu untuk menyimpan glikogen. Oleh karena itu, di susunan saraf pusat untuk keperluan metabolisme sepenuhnya tergantung dari glukosa dan oksigen yang terdapat di arteri-arteri yang menuju otak. Maka hidup matinya sel-sel neuron dalam susunan saraf pusat sepenuhnya tergantung dari peredaran darah arteri.

4.    Tanda dan Gejala Klinis
Tanda dan gejala pada stroke sangat bervariasi tergantung tergantung dengan topis dan luas yang lesi. Menurut Junaidi (2006) gangguan atau kelainan yang merupakan pertanda seseorang terkena stroke meliputi (1) adanya serangan defisit neurologi fokal, berupa kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai, atau salah satu sisi tubuh, (2) hilangnya rasa atau sensasi abnormal pada lengan, tungkai, atau salah satu sisi tubuh. Baal atau mati rasa sebelah, terasa kesemutan, terasa seperti terkena cabai, rasa terbakar, (3) mulut, lidah mencong bila diluruskan, (4) gangguan menelan: sulit menelan, minum suka tersedak, (5) bicara tidak jelas (blero), sulit berbahasa, kata yang diucapkan tidak sesuai keinginan, pelo, sengau, bicaranya ngaco, kata-katanya tidak bisa dipahami (afasia). Bicara tidak lancar, hanya sepatah-sepatah kata yang terucap.