Handwriting - Smiley Star

Minggu, 12 November 2017

Stroke non hemoragi




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Stroke adalah salah satu gangguan fungsional yang terjadi secara mendadak dengan tanda dan gejala klinik baik lokal maupun global yang berlangsung dengan cepat, berlangsung lebih dari 24 jam, atau berakhir dengan kematian, disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak (WHO, 1995).
Stroke adalah ganguan fungsi otak yang mengakibatkan aliran darah ke otak berkurang sehingga otak kekurangan suplai darah yang terjadi secara cepat dan mendadak tanpa kesadaran. Apabila otak secara terus menerus kekurangan suplai darah maka akan terjadi kematian pada individu. Gejala awal stroke umumnya kelumpuhan, kelemahan, hilangnya sensasi di wajah, lengan atau tungkai disalah satu sisi tubuh, kesulitan berbicara atau memahami, kesulitan menelan dan hilangnya sebagian penglihatan di satu sisi (Feigin, 2006).
Jumlah penderitan stroke di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Sebab penyakit ini sudah menjadi pembunuh nomor 3 di Indonesia setelah penyakit infeksi dan jantung koroner. Sekitar 28,5% penderita penyakit stroke di Indonesia meninggal dunia. Sedangkan di Eropa, stroke merupakan penyakit berbahaya kedua setelah penyakit jantung koroner. Di antara 100 pasien rumah sakit, sedikitnya 2 orang merupakan penderita stroke (Lumbantobing, 2002).
Stroke juga menjadi masalah kesehatan primer di AS dan dunia. Meskipun upaya pencegahan telah diupayakan namun angka kematian stroke masih tinggi, stroke masih menduduki peringkat ketiga penyebab kematian, dengan laju mortalitas 18% sampai 31% untuk serangan stroke pertama dan 62% untuk stroke selanjutnya (Rosjidi, 2007).
Secara global, sekitar 80 juta orang menderita stroke, dimana 13 juta korban stroke baru setiap tahunnya dan sekitar 4,4 juta diantaranya meninggal dalam 12 bulan. Terdapat sekitar 250 juta anggota keluarga yang berkaitan dengan para pengidapstroke dapat bertahan hidup. Selama perjalanan hidup mereka, sekitar empat dari lima keluarga akan memiliki salah seorang anggota mereka yang terkena (Feigin, 2006).
Menurut ketua umum yayasan stroke Indonesia, Laksamana TNI (Pur) Sudomo, penyakit stroke bisa menyerang siapa saja tanpa memandang jabatan atau tingkatan sosial-ekonomi baik di rumah sakit maupun yang berada dalam masyarakat. Dengan kecenderungan menyerang generasi muda yang masih produktif, dimana akan berdampak menurunnya tingkat produktifitas dan terganggunya sosial-ekonomi keluarga (Aurin, 2007). Namun stroke dapat diperkirakan dan dapat dicegah pada hampir 85% orang. Pada kenyataannya sekitar 1/3 pasien stroke sekarang dapat pulih sempurna jika pasien selalu mendapat terapi darurat dan rehabilitasi yang memadai (Feigin, 2007).
Proses perbaikan atau penyembuhan yang sempurna atau mendekati sempurna terjadi pada fase pemulihan (recovery). Namun fase pemulihan ini tergantung dari topis lesi, derajat berat, kondisi tubuh pasien, ketaatan pasien dalam menjalani proses pemulihan, ketekunan dan semangat penderita untuk sembuh. Karena tanpa itu semua, dapat mengakibatkan hambatan dalam melakukan rehabilitasi.
Modalitas yang digunakan fisioterapi dalam pemulihan atau penyembuhan salah satunya adalah terapi latihan, melalui latihan-latihan gerakan tubuh yang berulang-ulang maka akhirnya terjadi gerakan yang dikuasai dengan baik dan lebih mudah dikerjakan (Suyono, 1992). Karena pada fase ini otak mengalami plastisitas yaitu kemampuan untuk beradaptasi dan memodifikas organisasi struktural dan fungsional terhadap kebutuhan, yang biasa berlangsung terus sesuai dengan kebutuhan (Setiawan, 2007). Peran fisioterapi melalui terapi latihan adalah mencegah terjadinya komplikasi, menormalkan tonus otot (spastisitas) secara postural, memperbaiki keseimbangan dan koordinasi, menanamkan pola gerak yang benar dan meningkatkan kemampuan fungsional.
Dari berbagai alasan tersebut diatas maka dalam penulisan proposal Karya Tulis Ilmiah (KTI) akan merencanakan studi kasus dengan judul penatalaksanaan terapi latihan pada pasien pasca stroke non haemorragik stadium recovery.

B. Rumusan Masalah
Dari pernyataan di atas penulis akan mengangkat suatu pendekatan dari fisioterapi dalam menangani permasalahan yang berkaitan dengan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional dari penderita post stroke non haemoragik stadium recovery adalah :
1.      Apakah terapi latihan dengan mekanisme reflek postur dapat menurunkan spastisitas otot secara postural ?
2.      Apakah terapi latihan dapat memperbaiki keseimbangan dan koordinasi ?
3.      Apakah terapi latihan dapat meningkatkan kemampuan motorik fungsional ?

C. Tujuan Penelitian
1.   Tujuan Umum
Untuk mengetahui peningkatan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional serta mencegah permasalahan yang mungkin muncul dalam melaksanakan proses fisioterapi pada kondisi pasien post stroke non haemoragik stadium recovery.

2.      Tujuan Khusus
a.      Untuk mengetahui terapi latihan mekanisme reflek postur dapat menurunkan spastisitas otot secara postural
b.      Untuk mengetahui terapi latihan dapat memperbaiki keseimbangan dan koordinasi
c.       Untuk mengetahui terapi latihan dapat meningkatkan kemampuan motorik fungsional.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat di ambil dari penulisan Karya Tulis Ilmiah adalah :
1.   Ilmu pengetahuan dan teknologi
a.       Memberikan gambaran bahwa terapi latihan dengan mekanisme reflek postur dapat menurunkan spastisitas otot secara postural, memperbaiki keseimbangan, koordinasi, kemampuan motorik dan fungsional.

2.      Bagi Penulis
Menambahkan dan memperluas wawasan, pengetahuan penulis tentang terapi latihan pada pasien pasca stroke non haemorragik stadium recovery.

3.      Bagi Pembaca
Mendapat gambaran tentang terapi latihan pada pasien pasca stroke non haemorragik stadium recovery yang memberikan informasi penting sehingga pembaca dapat mengetahui faktor resiko sebagai pencetus dan berusaha menjadi anggota keluarga untuk menghindari faktor resiko tersebut.

4.      Bagi pendidikan
Dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan untuk lebih mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalaman,menyebarluaskan mengenai kasus stroke ini.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      Stroke
1.    Definisi Stroke Non Haemorragik
Pada Stroke Non Haemoragik (SNH) adalah stroke yang disebabkan peredaran darah ke sebagian jaringan otak terhenti karena sumbatan thrombus dan embolus yang terlepas dari jantung atau arteri ekstrakranial (arteri yang berada di luar tengkorak) yang menyebabkan sumbatan di satu atau beberapa arteri intracranial (arteri yang berada di dalam tengkorak). Stadium recovery adalah stadium pada penderita stroke dimana terjadi reabsorbsi oedema pada otak, sehingga terjadi penurunan proses desak ruang akut yang ada didalam otak, aktifitas reflek spinal sudah dapat berfungsi tetapi belum mendapat kontrol dari sistem supraspinal, berlangsung sekitar 6-8 bulan setelah terjadinya serangan stroke. Apabila fase ini diberikan penanganan yang baik maka perbaikan kearah impairment masih dapat ditingkatkan. (Kuntono, 2002)

2.    Etiologi
Pada Stroke Non Haemoragik (SNH), dapat dibedakan menjadi stroke embolik dan thrombolik. Pada stroke thrombolitik didapati oklusi di lumen arteri serebal oleh thrombus. Pada stroke embolik penyumbatan disebabkan oleh suatu embolus yang dapat bersumber pada arteri serebral, karotis interna vertebrobasiler, arkus aorta asendens ataupun katup serta endokranium jantung. Ateroklerotik dan berulserasi, atau gumpalan thrombus yang terjadi karena fibrilasi atrium, gumpalan kuman karena endokarditis bacterial atau gumpalan darah di jaringan karena infrak mural. (Feigin, 2006)



3.    Patologi
Otak merupakan 2% dari berat badan tubuh total (sekitar 1,4 kg) namun otak hanya menggunakan 20% dari oksigen tubuh dan 50% glukosa yang ada didalam darah arterial (Feigin, 2006). Otak sangat tergantung suplai darah dari luar, sehingga anatomi pembuluh darah otak mempunyai struktur yang mendukung tetap tersedianya darah pada otak.
Otak mendapatkan suplai darah dari dua arteri utama yaitu arteri karotis (kanan-kiri), menyalurkan darah ke otak bagian depan atau disebut sirkulasi arteri serebrum anterior dan sistem vertebrobasilaris menyalurkan darah ke bagian belakang otak atau di sebut sirkulasi arteri serebrum posterior (Feigin, 2006). Keempat cabang arteri ini akan membentuk suatu hubungan yang disebut sirkulus willisi.
Apabila terjadi gangguan peredaran darah ke otak akan menimbulkan gangguan metabolisme sel-sel neuron. Dimana sel-sel neuron itu tidak mampu untuk menyimpan glikogen. Oleh karena itu, di susunan saraf pusat untuk keperluan metabolisme sepenuhnya tergantung dari glukosa dan oksigen yang terdapat di arteri-arteri yang menuju otak. Maka hidup matinya sel-sel neuron dalam susunan saraf pusat sepenuhnya tergantung dari peredaran darah arteri.

4.    Tanda dan Gejala Klinis
Tanda dan gejala pada stroke sangat bervariasi tergantung tergantung dengan topis dan luas yang lesi. Menurut Junaidi (2006) gangguan atau kelainan yang merupakan pertanda seseorang terkena stroke meliputi (1) adanya serangan defisit neurologi fokal, berupa kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai, atau salah satu sisi tubuh, (2) hilangnya rasa atau sensasi abnormal pada lengan, tungkai, atau salah satu sisi tubuh. Baal atau mati rasa sebelah, terasa kesemutan, terasa seperti terkena cabai, rasa terbakar, (3) mulut, lidah mencong bila diluruskan, (4) gangguan menelan: sulit menelan, minum suka tersedak, (5) bicara tidak jelas (blero), sulit berbahasa, kata yang diucapkan tidak sesuai keinginan, pelo, sengau, bicaranya ngaco, kata-katanya tidak bisa dipahami (afasia). Bicara tidak lancar, hanya sepatah-sepatah kata yang terucap.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar