BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Stroke adalah salah satu gangguan fungsional yang terjadi secara
mendadak dengan tanda dan gejala klinik baik lokal maupun global yang
berlangsung dengan cepat, berlangsung lebih dari 24 jam, atau berakhir dengan
kematian, disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak (WHO, 1995).
Stroke adalah ganguan fungsi otak yang mengakibatkan aliran
darah ke otak berkurang sehingga otak kekurangan suplai darah yang terjadi
secara cepat dan mendadak tanpa kesadaran. Apabila otak secara terus menerus
kekurangan suplai darah maka akan terjadi kematian pada individu. Gejala awal
stroke umumnya kelumpuhan, kelemahan, hilangnya sensasi di wajah, lengan atau
tungkai disalah satu sisi tubuh, kesulitan berbicara atau memahami, kesulitan
menelan dan hilangnya sebagian penglihatan di satu sisi (Feigin, 2006).
Jumlah penderitan stroke di Indonesia meningkat dari tahun
ke tahun. Sebab penyakit ini sudah menjadi pembunuh nomor 3 di Indonesia
setelah penyakit infeksi dan jantung koroner. Sekitar 28,5% penderita penyakit
stroke di Indonesia meninggal dunia. Sedangkan di Eropa, stroke merupakan
penyakit berbahaya kedua setelah penyakit jantung koroner. Di antara 100 pasien
rumah sakit, sedikitnya 2 orang merupakan penderita stroke (Lumbantobing,
2002).
Stroke juga menjadi masalah kesehatan primer di AS dan
dunia. Meskipun upaya pencegahan telah diupayakan namun angka kematian stroke
masih tinggi, stroke masih menduduki peringkat ketiga penyebab kematian, dengan
laju mortalitas 18% sampai 31% untuk serangan stroke pertama dan 62% untuk
stroke selanjutnya (Rosjidi, 2007).
Secara global, sekitar 80 juta orang menderita stroke,
dimana 13 juta korban stroke baru setiap tahunnya dan sekitar 4,4 juta
diantaranya meninggal dalam 12 bulan. Terdapat sekitar 250 juta anggota
keluarga yang berkaitan dengan para pengidapstroke dapat bertahan hidup. Selama
perjalanan hidup mereka, sekitar empat dari lima keluarga akan memiliki salah
seorang anggota mereka yang terkena (Feigin, 2006).
Menurut ketua umum yayasan stroke Indonesia, Laksamana TNI
(Pur) Sudomo, penyakit stroke bisa menyerang siapa saja tanpa memandang jabatan
atau tingkatan sosial-ekonomi baik di rumah sakit maupun yang berada dalam
masyarakat. Dengan kecenderungan menyerang generasi muda yang masih produktif,
dimana akan berdampak menurunnya tingkat produktifitas dan terganggunya
sosial-ekonomi keluarga (Aurin, 2007). Namun stroke dapat diperkirakan dan
dapat dicegah pada hampir 85% orang. Pada kenyataannya sekitar 1/3 pasien
stroke sekarang dapat pulih sempurna jika pasien selalu mendapat terapi darurat
dan rehabilitasi yang memadai (Feigin, 2007).
Proses perbaikan atau penyembuhan yang sempurna atau
mendekati sempurna terjadi pada fase pemulihan (recovery). Namun fase pemulihan
ini tergantung dari topis lesi, derajat berat, kondisi tubuh pasien, ketaatan
pasien dalam menjalani proses pemulihan, ketekunan dan semangat penderita untuk
sembuh. Karena tanpa itu semua, dapat mengakibatkan hambatan dalam melakukan
rehabilitasi.
Modalitas yang digunakan fisioterapi dalam pemulihan atau
penyembuhan salah satunya adalah terapi latihan, melalui latihan-latihan
gerakan tubuh yang berulang-ulang maka akhirnya terjadi gerakan yang dikuasai
dengan baik dan lebih mudah dikerjakan (Suyono, 1992). Karena pada fase ini
otak mengalami plastisitas yaitu kemampuan untuk beradaptasi dan memodifikas
organisasi struktural dan fungsional terhadap kebutuhan, yang biasa berlangsung
terus sesuai dengan kebutuhan (Setiawan, 2007). Peran fisioterapi melalui
terapi latihan adalah mencegah terjadinya komplikasi, menormalkan tonus otot
(spastisitas) secara postural, memperbaiki keseimbangan dan koordinasi,
menanamkan pola gerak yang benar dan meningkatkan kemampuan fungsional.
Dari berbagai alasan tersebut diatas maka dalam penulisan
proposal Karya Tulis Ilmiah (KTI) akan merencanakan studi kasus dengan judul
penatalaksanaan terapi latihan pada pasien pasca stroke non haemorragik stadium
recovery.
B. Rumusan Masalah
Dari pernyataan di atas
penulis akan mengangkat suatu pendekatan dari fisioterapi dalam menangani
permasalahan yang berkaitan dengan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional
dari penderita post stroke non haemoragik stadium recovery adalah :
1. Apakah terapi latihan dengan
mekanisme reflek postur dapat menurunkan spastisitas otot secara postural ?
2. Apakah terapi latihan dapat
memperbaiki keseimbangan dan koordinasi ?
3. Apakah terapi latihan dapat
meningkatkan kemampuan motorik fungsional ?
C.
Tujuan Penelitian
1. Tujuan
Umum
Untuk
mengetahui peningkatan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional serta mencegah
permasalahan yang mungkin muncul dalam melaksanakan proses fisioterapi pada
kondisi pasien post
stroke non haemoragik stadium
recovery.
2. Tujuan
Khusus
a. Untuk
mengetahui terapi latihan mekanisme reflek postur dapat menurunkan spastisitas otot secara
postural
b. Untuk
mengetahui terapi
latihan dapat memperbaiki keseimbangan dan koordinasi
c. Untuk
mengetahui terapi
latihan dapat meningkatkan kemampuan motorik fungsional.
D.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat di ambil dari penulisan Karya Tulis Ilmiah
adalah :
1.
Ilmu pengetahuan dan teknologi
a. Memberikan
gambaran bahwa terapi latihan dengan mekanisme reflek postur dapat menurunkan spastisitas otot secara
postural, memperbaiki keseimbangan, koordinasi,
kemampuan motorik dan fungsional.
2. Bagi
Penulis
Menambahkan dan memperluas wawasan, pengetahuan
penulis tentang terapi
latihan pada pasien pasca stroke non haemorragik stadium recovery.
3. Bagi
Pembaca
Mendapat gambaran tentang terapi latihan pada pasien pasca
stroke non haemorragik stadium recovery yang memberikan informasi
penting sehingga pembaca dapat mengetahui faktor resiko sebagai pencetus dan
berusaha menjadi anggota keluarga untuk menghindari faktor resiko tersebut.
4. Bagi
pendidikan
Dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan untuk
lebih mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalaman,menyebarluaskan mengenai
kasus stroke ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Stroke
1. Definisi
Stroke Non Haemorragik
Pada
Stroke Non Haemoragik (SNH) adalah stroke yang disebabkan peredaran darah ke
sebagian jaringan otak terhenti karena sumbatan thrombus dan embolus yang
terlepas dari jantung atau arteri ekstrakranial (arteri yang berada di luar
tengkorak) yang menyebabkan sumbatan di satu atau beberapa arteri intracranial
(arteri yang berada di dalam tengkorak). Stadium recovery adalah stadium
pada penderita stroke dimana terjadi reabsorbsi oedema pada otak, sehingga
terjadi penurunan proses desak ruang akut yang ada didalam otak, aktifitas
reflek spinal sudah dapat berfungsi tetapi belum mendapat kontrol dari sistem
supraspinal, berlangsung sekitar 6-8 bulan setelah terjadinya serangan stroke.
Apabila fase ini diberikan penanganan yang baik maka perbaikan kearah
impairment masih dapat ditingkatkan. (Kuntono, 2002)
2.
Etiologi
Pada
Stroke Non Haemoragik (SNH), dapat dibedakan menjadi stroke embolik dan
thrombolik. Pada stroke thrombolitik didapati oklusi di lumen arteri serebal
oleh thrombus. Pada stroke embolik penyumbatan disebabkan oleh suatu embolus
yang dapat bersumber pada arteri serebral, karotis interna vertebrobasiler,
arkus aorta asendens ataupun katup serta endokranium jantung. Ateroklerotik dan
berulserasi, atau gumpalan thrombus yang terjadi karena fibrilasi atrium,
gumpalan kuman karena endokarditis bacterial atau gumpalan darah di jaringan
karena infrak mural. (Feigin, 2006)
3.
Patologi
Otak
merupakan 2% dari berat badan tubuh total (sekitar 1,4 kg) namun otak hanya
menggunakan 20% dari oksigen tubuh dan 50% glukosa yang ada didalam darah
arterial (Feigin, 2006). Otak sangat tergantung suplai darah dari luar,
sehingga anatomi pembuluh darah otak mempunyai struktur yang mendukung tetap
tersedianya darah pada otak.
Otak
mendapatkan suplai darah dari dua arteri utama yaitu arteri karotis
(kanan-kiri), menyalurkan darah ke otak bagian depan atau disebut sirkulasi
arteri serebrum anterior dan sistem vertebrobasilaris menyalurkan darah ke
bagian belakang otak atau di sebut sirkulasi arteri serebrum posterior (Feigin,
2006). Keempat cabang arteri ini akan membentuk suatu hubungan yang disebut
sirkulus willisi.
Apabila terjadi gangguan peredaran darah
ke otak akan menimbulkan gangguan metabolisme sel-sel neuron. Dimana sel-sel
neuron itu tidak mampu untuk menyimpan glikogen. Oleh karena itu, di susunan
saraf pusat untuk keperluan metabolisme sepenuhnya tergantung dari glukosa dan
oksigen yang terdapat di arteri-arteri yang menuju otak. Maka hidup matinya
sel-sel neuron dalam susunan saraf pusat sepenuhnya tergantung dari peredaran
darah arteri.
4.
Tanda dan Gejala Klinis
Tanda
dan gejala pada stroke sangat bervariasi tergantung tergantung dengan topis dan
luas yang lesi. Menurut Junaidi (2006) gangguan atau kelainan yang merupakan
pertanda seseorang terkena stroke meliputi (1) adanya serangan defisit
neurologi fokal, berupa kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai, atau
salah satu sisi tubuh, (2) hilangnya rasa atau sensasi abnormal pada lengan,
tungkai, atau salah satu sisi tubuh. Baal atau mati rasa sebelah, terasa
kesemutan, terasa seperti terkena cabai, rasa terbakar, (3) mulut, lidah
mencong bila diluruskan, (4) gangguan menelan: sulit menelan, minum suka
tersedak, (5) bicara tidak jelas (blero), sulit berbahasa, kata yang diucapkan
tidak sesuai keinginan, pelo, sengau, bicaranya ngaco, kata-katanya tidak bisa
dipahami (afasia). Bicara tidak lancar, hanya sepatah-sepatah kata yang
terucap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar